Perkembangan Sejarah Seni Grafis di Indonesia

Seperti yang kita ketahui bahwa seni grafis merupakan salah satu bentuk seni terapan dari seni rupa. Seni grafis sendiri merupakan suatu seni yang menggunakan teknologi komputer, laptop hingga media cetak yang lainnya. Seni tersebut akan dicetak di atas kertas seperti majalah, koran, pakaian, hingga baliho.

Sejarah Seni Grafis

Tidak hanya itu, akan tetapi juga banyak wadah eksploratif yang bisa dimanfaatkan oleh para seniman untuk mencapai tujuan utama mereka yaitu nilai estetik.

Karena seperti yang kita ketahui bahwa seni grafis itu bagaimana mampu menduplikasikan diri kepada karya seni, sehingga dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan tidak hanya kaum elit saja.

Untuk memahaminya lebih mendalam, oleh karena itu pada artikel ini akan dijelaskan mengenai perkembangan sejarah seni grafis terutama di negara kita yaitu Indonesia.

Sejarah Seni Grafis

Seni grafis muncul pada saat kependudukan Belanda karena ada kolonialisasi pada saat itu. Pada masa ini, Belanda pernah beberapa kali menunjuk seniman untuk diberikan tugas. Tugas ini berupa melakukan studi landscape di Indonesia guna merekam kearifan dan keeksotisan negara Indonesia.

Setelah melakukan studi maka yang harus dilakukan selanjutnya adalah menuangkan ke dalam lukisan yang memiliki kesan romantisme. Kendala yang dihadapi ketika ingin mengembangkan dan mengaplikasikan seni grafis ini terletak pada alat cetak. Pada saat itu alat cetak menjadi alat yang sangat langka dan tidak semua memilikinya.

Pada zaman dahulu di hanya Institut Teknologi Bandung yang dapat menyediakan alat – alat pendukung serta mesin cetak untuk teknik cetak rendah, cetak tinggi, cetak datar, dan cetak saring. Akan tetapi tetap saja mesin dan peralatan tersebut terlihat tidak terawat.

Hal ini kembali lagi pada biaya yang dimiliki oleh Indonesia, karena pada zaman itu mesin cetak harganya sangat mahal dan akses untuk mendapatkannya pun juga sangat sulit karena harus di datangkan langsung dari negara Jerman.

Seni grafis masih dianggap remeh dan sebelah mata oleh banyak pihak. Hal ini dibuktikan dengan adanya kejadian di mana pameran seni grafis ini diselenggarakan secara menumpang dengan kesenian lain seperti patung atau lukis. Akan tetapi dengan adanya seni grafis ini memberikan dampak yang luar biasa bagi periode kemerdekaan Indonesia.

Pada periode kemerdekaan, seni grafis membantu mempublikasikan kemerdekaan ke luar negeri sehingga bangsa Indonesia dapat diakui sebagai bangsa yang merdeka.

Seni Grafis Periode 1970 – 1980

Pada periode ini seni grafis baru diakui dan muncul ke permukaan karena sudah mendapat banyak dukungan dan suara. Hal ini dibuktikan dengan diadakannya acara pameran di beberapa tempat seperti :

  • Surabaya
  • Bandung
  • Jakarta

Ketiga kota tersebut bergantian memamerkan karya-karya Haryadi Suadi, A.D. Pirous, Kaboel Soeadi, dan Mochtar Apin.

6 orang yang terdiri atas Sutanto, G. Siddharta, Pirous, Sunaryo, Dudi Kusnidar, dan Priyanto mendalami teknik serigrafi karena pada saat itu industri garmen sedang berkembang pesat.

Dan akhirnya mereka menjadi profesional pada bidangnya dan mengembangkan akademi desain grafis di negara Indonesia.

Seni Grafis Periode 1990 hingga Sekarang

Pada periode ini modernisasi mulai muncul dan digaungkan yang kemudian lahirlah performance art, instalasi, dan media unik yang cenderung mengundang kontroversi. Seperti pada Bienalle IX Jogja yang potmodernisme dengan menjatuhkan pilihan pada instalasi.

Tidak hanya itu, juga pernah diselenggarakan pameran “Taman Plastik” oleh Marida. N. Juga ada pemeran lainnya yaitu yang berjudul “Seni Grafis dan Sepakbola” yang diselenggarakan oleh Tisna Sanjaya.

Pada perkembangannya teknologi dalam bidang seni grafis terus berkembang yang ditandai dengan adanya mesin digital print, c – print dan masih ada lainnya lagi.

ITB menjadi salah satu Institut yang memiliki mesin serta peralatan yang lengkap, sehingga para seniman dapat berekspresi sesuai dengan ide mereka. Kemudian di kota Jogja juga ada perkembangan serigraphy dan memiliki peminat banyak pada kalangan seniman. Akan tetapi tetap ada keterbatasan terutama keterbatasan mesin.

Walaupun ada keterbatasan, tetap saja ini tidak menjadi halangan para seniman penggrafis untuk tetap berkarya  di Jogja, mereka dengan sengat rajin dan giat terus menggeluti cukil kayu hingga mencapai penguasaan teknis dan sistem yang dapat dinilai amat baik.

Sementara di Bandung sendiri kesadaran seniman dalam penggunaan media cetak masih dipertanyakan eksistensinya.

Kesimpulan

Jadi, perkembangan seni grafis di Indonesia terutama pada grafis kontemporer Indonesia memiliki kekayaan melimpah dalam hal karyanya, karena memang seniman yang bergelut pada bidang seni grafis ini juga banyak. Para seniman ini memiliki pola pikir dan kerja yang sangat teratur dan terstruktur.

Akan tetapi masih saja ada kekurangan terutama dalam ketersediaan sarana dan prasarana sehingga membatasi kreatifitas dari mereka para seniman. Walaupun masih ada kekurangan, hasil karya para seniman tetap melahirkan suatu karya yang memiliki teknik cetak yang filosofis.

Jadi, sekali lagi ditekankan bahwa seni grafis merupakan bukan suatu kesenian sebelah mata yang murahan, kelas dua, hingga pinggiran. Kesenian ini juga memiliki nilai keindahan di dalamnya sehingga eksistensi yang terkandung di dalamnya juga dapat terpancar.  

Sejarah Seni Grafis semoga dapat membantu kita dalam menambah wawasan dan khazanah dalam bidang seni terutama seni grafis. Setelah membaca artikel ini diharapkan kepada para pembaca untuk mengubah stereotip mengenai seni grafis yang kampungan dan pinggiran menjadi seni yang memiliki nilai estetik. Semua seni memiliki kedudukan sama dan keindahan, karena seni itu bersifat subjektif. 

You May Also Like

About the Author: Nose Rania

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *